061205
Jika diberi masalah hidup
Mengapa jiwa menjadi redup
Bukankah demikian hidup
Harus di hirup ?
Jika di beri kemewahan nan riuh
Mengapa masih mengaduh
Bukankah tak pantas insan mengeluh ?
Ah,
Mungkin manusia enggan mengukur
Hingga lupa cara bersyukur
190305
Karena kita adalah pejuang,
Maka debu-debu
Kita bersihkan sambil berlari
Dalam perjalanan lintas generasi
Maka kita tetap
Menyapa ramah bunga-bunga
Tersenyum hangat pada matahari
Kendati kaki berdarah perih
Tancapan duri dan
Goresan kerikil
Maka lelah merupakan
Saat untuk berhenti sejenak
Menghilangkan dahaga ruhiyah
Maka kita mewarisi
Semangat pekikan takbir para Nabi :
Allahu Akbar !!
Maka, mari kita melanjutkan perjalanan…
140205
Akhirnya,
Sampai juga aku di titik ini
Saat aku harus berjalan tanpa kalian
Dengan kaki yang masih goyah,
Mencoba merasai hidup
Yang sebenarnya
Aku bertanya,
Jika tanpa kalian
Masih indahkah dunia ?
Masih samakah hari-hari ?
Sebab waktu telah melukis kenangan indah
Pada dinding hati
Abadi.
Berjalan beriringan di tengah badai
Menari bersama di bawah pelangi
Bergandengan tangan menuju cahaya
Sahabat adalah…
Hadiah terindah yang kita berikan
Untuk diri sendiri
Namun,
Untuk sebuah cita yang agung
Kita rela dibentuk dalam waktu
Menghabiskan hari
Memahat rindu pada Kekasih
Mempersiapkan diri setiap saat
Jika Dia ingin bertemu
Agunglah cinta kita karena Dia
Bertemu dan berpisah karena-Nya
Sahabat-sahabat hatiku sayang,
Salam jabat erat hatiku
Dekap hangat dari jiwaku
030107
Rumah kita kecil saja
Halaman luas, agar tangan
Mampu mencipta keindahan
Senyum bunga-bunga
Selalu untuk kita
Sedikit perabot, duduk lesehan,
Jadilah.
Agar anak-anak bebas berlari,
Bermain, melepas senyum pada dunia
Lapang.
Tak gusar memecah keramik
Tak takut menubruk perabot
Tidak usah banyak sudut
Agar tak terbagi hatiku
Dengan perpustakaan
Bersahabat dengan buku-buku
Kebanyakan sudah lecet
Tanda seringnya kita mengarungi dunia bersamanya
Tempat kita memelihara rindu
Pada Kekasih
Syurga kecil buat kita
271204
Tak kubermaksud
Mendahului takdir
Tak kuhendak pongah
Mengatur segala
Ku hanya mencoba
Mengurai rencana pada waktu.
Membaginya,
Pada detik-detik kemudian
Ketika semua terburai
Di hadapan kuasa-Mu
Ku sadar tersentak
Engkaulah Sang Penentu
Ampuni aku
Jika tanpa sadar
Mencoba menyandang selendang-Mu